Saturday, May 2, 2020

Tentang Orang Sunda dan Huruf 'F'


Sisi Unik Mahasiswa Sunda | Berkuliah.com

Sebagai orang yang lahir dan besar di Jogja, sebetulnya saya jarang bersinggungan dengan orang-orang Sunda. Pengalaman berinteraksi langsung dengan mereka dimulai ketika saya melakukan perjalanan ke Bandung, namun itu hanya berlangsung sebentar. Interaksi yang lebih lama terjadi sejak saya kuliah dan bertemu mahasiswa dari berbagai daerah, mulai masa orientasi hingga masuk ke dalam kelas.

Rupanya, ada beberapa mahasiswa di kelas saya yang berasal dari Sunda. Ada sekitar lima orang yang terdiri atas lelaki dan perempuan dari daerah Banjar, Tasikmalaya, Subang, hingga Banten. Pada mulanya, hal pertama yang menarik perhatian saya adalah nada bicara dan dialek mereka yang Sunda banget. Saya biasa menemui percakapan dengan sisipan “teh” dan “atuh” hanya melalui novel, film, atau tayangan televisi.

kaskus.com

Ternyata, ada hal lain lagi yang masih Sunda banget yang luput saya perhatikan dan baru saya temukan ketika kelas Bahasa Inggris. Ya, saya mendengar salah satu mahasiswa dari Sunda mengucap kata fashion menjadi passion. Kemudian saya teringat, sepertinya mereka sering melafalkan fonem atau bunyi /f/ menjadi /p/, misalnya faperta menjadi paferta atau bahkan paperta. Apalagi ketika akronim faperta tersebut diuraikan menjadi fakultas pertanian. Dalam beberapa waktu, mereka terlihat kesal kalau teman-teman kami berlebihan menjadikan itu sebagai sebuah lelucon; mengetes orang Sunda melafalkan kata-kata berfonem /f/ dan /v/. Namun, bagaimanapun juga, candaan itu hanya sebagai salah satu cara bonding kami sebagai mahasiswa baru.

Dari situ, tergeraklah saya untuk mencari tahu hubungan orang Sunda dan huruf ‘f’. Oh…di situlah saya menemukan berbagai meme yang menggelitik. Gambar yang juga diunggah oleh dosen saya ketika kuliah daring dalam pembahasan topik pemengaruhan bunyi. Melalui gambar itu, kita berhadapan dengan sistem bunyi yang tidak selaras dengan sistem tulisan. Menurut buku Fonetik karya Marsono, pemengaruhan bunyi disebabkan oleh dua hal, yaitu proses asimilasi dan artikulasi penyerta. Yang terjadi di sini adalah proses asimilasi, yaitu pengaruh-mempengaruhi bunyi tanpa mengubah identitas fonem.

kompasiana.com
Kata fanta yang diucapkan sebagai panta atau virus menjadi pirus menunjukkan terjadinya suatu perubahan bunyi dari dua bunyi yang tidak sama menjadi sama atau hampir sama. Dalam konteks tersebut, terjadi perubahan fonem /f/ menjadi /p/ yang memang tidak mempengaruhi makna, tetapi berkemungkinan menganggu proses komunikasi apabila dilakukan dengan orang-orang baru dari penutur bahasa yang berbeda.
Sebetulnya, jawabannya bisa sangat sederhana: struktur fonologis bahasa Sunda tidak mengenal fonem atau bunyi /f/.
Akan tetapi, bila ditelusuri lebih jauh lagi, bunyi /f/ bukanlah fonem asli bahasa Indonesia atau disebut sebagai bahasa Melayu kala itu, sehingga fonem /f/ merupakan fonem pinjaman. Sedangkan, fonem /p/ merupakan fonem asli bahasa Indonesia. Pembahasan ini berkaitan dengan kajian sejarah dimana pada zaman kerajaan, termasuk pada aksara Sunda yang ditulis dalam prasasti atau lontar tidak memiliki fonem /f/ dan /v/. Fonem-fonem seperti /f/, /v/, /z/, dan /sh/ diperkenalkan oleh pedagang dari Arab ketika menyebarkan agama Islam.

kaskus.com

kaskus.com

Pendapat lain mengatakan, ketidakmampuan orang Sunda melafalkan beberapa konsonan berkaitan dengan pikiran arkeologis. Tradisi pelafalan /p/ yang mengendap dalam alam pikiran orang Sunda sejak ratusan tahun lalu menjadikan hal itu sebagai sesuatu yang wajar. Pikiran arkeologis ini dikemukakan oleh pengamat kebudayaan Sunda, Jakob Sumardjo. Namun, aspek ini tidak akan saya bahas lebih lanjut karena bukan merupakan ranah fonologi.

Pada intinya, orang Sunda zaman sekarang telah mengenyam pendidikan modern dan mampu mengucap /f/, hanya saja dalam posisi yang salah karena persepsi terhadap fonem /f/ masih sama dengan /p/ seperti dalam kasus pengucapan kata faperta. Lagipula, pengucapan /p/ untuk /f/ tidak mengubah arti dalam bahasa Sunda.

Batasan fonologi seperti yang ditemukan dalam kasus orang Sunda tidak bisa membedakan /p/ dan /f/ merupakan sesuatu yang lumrah dan ada di setiap biasa. Hal itu justru dapat dipandang sebagai keunikan dalam keberagaman berbahasa, seperti orang mBantul (seperti saya) yang tidak bisa masuk ITB karena mereka hanya mengenal ITM, Institut Teknologi Mbandung.

Di Balik Semarak Bunga Kampus Ganesha - Institut Teknologi Bandung
itb.ac.id

Daftar Pustaka

Hadi, S., Soeratno, S. C., Ramlan, M., & Wijana, I. D. P. (2003). PERUBAHAN FONOLOGIS KATA-KATA SERAPAN DARI BAHASA ARAB DALAM BAHASA INDONESIA. Jurnal Humaniora, 15, pp. 121-132.
Fauziyah, A., & Mulyaningsih, I. (2016). PERUBAHAN BUNYI PADA TUTURAN RESMI YANG DIGUNAKAN MAHASISWA IAIN SYEKH NURJATI CIREBON. Indonesian Language Education and Literature, 2(1), 50-59.
Fitriandi, A. 2018. CIA Catatan Insinyur Angus dari ITB. Bandung: ITB Press.
Marsono. 2018. Fonetik. Cet. ke-9. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sumber Gambar

(1) berkuliah.com


4 comments:

  1. wkwkwkwkwk pakta! makasih dah share postingan berpaedah ini, Alip!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe semoga beneran berfaedah yaa, Sel. Senang bisa berbagi!

      Delete
  2. untukku yg rantau mendekati sesundaan akhirnya penasaranku terjawab wkwkwk, thanks lho lip (aku mBantul tapi emang enak pake p buat gantiin f wkwk)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Purwokerto fellas~

      Memang seperti orang Jawa pada umumnya, utamanya yang lanjut usia xixixi.

      Delete

Just write your thoughts.