Thursday, November 19, 2015

tentang seorang teman



Beberapa hari yang lalu, aku masih sibuk berkontemplasi dan bingung menuangkannya. Tentang sebuah hubungan yang biasa disebut pertemanan. Kalau lebih dekat lagi, persahabatan. Semua orang pasti punya yang seperti itu. Pernah punya atau masih punya?

Foto di atas, dengan jas kebesaran di depan bilik 2 untuk Pemilihan Ketua Osis Tahun 2015 di sekolahku. Jasnya memang kebesaran, tidak ada ukuran yang pas karena sebetulnya itu bukan jas almamater melainkan jas tonti. PEMILOS 2015 yang diadakan pertama kali di sekolahku dengan model bilik dan cap jari. Seperti pemilu betulan. Dan aku bersyukur bisa jadi bagian dari panitianya.

Rapat yang menyita jam pelajaran, pemilihan kandidat dengan menunjukkan kebolehannya saat berpidato yang mengundang gelak tawa, semuanya. Semua yang kita lakukan sampai hari Rabu itu akhirnya datang dan acara berjalan lumayan lancar. Mengetahui hasilnya, tentu, lebih dulu dari yang lain. Capek, kesal, dan keluh kesah lainnya terbayarkan.

Tapi, aku nggak akan cerita tentang pemilos lebih lanjut. Mungkin besok dibuat postingan throwback aja, biar lebih dramatis hehe. Aku mau cerita tentang teman.

Aku punya banyak teman, dari yang satu sekolah, beda sekolah, beda tingkatan, beda usia, dan perbedaan-perbedaan yang lain. Kami berkomunikasi, entah itu melalui dunia maya atau dunia nyata. Namun, berapa banyak teman sih yang benar-benar bisa disebut sebagai teman? Teman yang bisa diajak kerja sama, teman yang sevisi-misi, teman yang saling menolong, teman yang mengajak kita ke kebaikan, teman yang seperti itu ... ada berapa ya?

Kadang kalau yang seperti itu sudah ketemu, jadi galau lagi. Teman yang seperti itu musiman, kata yang sensitif banget. Nggak selamanya bisa hadir ketika kita butuh. Tapi seringnya datang pas dia lagi butuh. Ya namanya juga manusia, sudah sifat alamiahnya, jadi maklumi saja. Kalau dipikir-pikir, aku juga pernah seperti itu. Menjadi orang yang menyebalkan pada versi asumsi orang lain.

Aku pernah tuh, sedih banget, tapi rasanya pingin marah juga. Ketika temenku tiba-tiba menjauh dan keesokan harinya aku lihat dia udah deket sama temenku yang lain. Duar, yang namanya hatinya cewek, lihat begituan langsung jadi pikiran banget. Oh jadi gini maksudnya, ternyata semua temen sama aja ya, endingnya kayak begini. Nggak mau lagi deh deket banget sama orang.

Dan habis itu, kita jadi diem-dieman gitu. Nggak pernah nyapa, nggak pernah senyum, is everthing has changed. Mata dan hatiku langsung ketutup. Seolah semua mengintruksikan,
Temen / sahabat yang ada di quote-quote novel dan film itu adanya juga cuma di situ, bukan di dunia nyata.
Sebaik apapun dia, sekaya apapun dia, setinggi apapun jabatan dia, yang namanya manusia nggak ada yang sempurna. Kita nggak bisa terus-terusan deket, pulang bareng terus main buat sekadar nyari wifi, atau ngelakuin hal-hal random yang membuang waktu di sisa masa sekolah. Aku udah menutup telinga tentang semua perkataan orang tentang kebaikan temenku itu, padahal masalahnya apa?

Masalahnya ; aku berasumsi kalau dia ngejauhin aku dan memilih untuk berteman dengan orang lain, menjalin hubungan kayak aku dulu sama dia. Melakukan hal-hal yang dulu aku sama dia lakuin di sekolah ataupun di luar sekolah. Aku cemburu. Pada seorang teman, karena seorang teman.

Sampai akhirnya aku iseng blogwalking ke anak SMA favorit di kotaku, aku kira dia udah nggak ngeblog lagi, ternyata malah ada postingan baru tentang temen juga. Aku langsung excited dan membaca tuntas tanpa ada yang kelewatan.

Secara garis besar yang aku tangkap, dia bilang kita harus tetep ramah dan terbuka sama orang. Mencoba cari temen dan relasi sebanyak-banyaknya karena itu akan berguna kalau nyari pekerjaan/pendidikan/dsb. Dan yang namanya temen itu, nggak ada yang sempurna, karena temen juga manusia. Jadi wajar kalau suatu saat teman kita pergi, atau menjauh dari kita. Mereka sebenernya nggak pergi, mereka cuma berpindah ke tempat lain. Sama seperti kita, sebenernya kita juga suka pergi dan menjauh dari kehidupan orang lain tanpa menyadarinya.

Masalah temen musiman, temen yang menjauh, dan kalimat sendu lain, alhamdulillah aku udah mulai mencoba untuk biasa aja menghadapinya. Nggak baper lagi. Temen itu ada banyak, di mana aja kita bisa dapet. Cuma semakin kita besar, semakin kita berkembang, kita harus selektif pilih temen karena semakin lama kita tahu siapa yang patut dipercayai.

Sebagai penutup, aku berterima kasih buat kalian yang udah jadi temen aku. Yang pernah jadi temen aku. Yang masih jadi temen aku. Makasih udah jadi bagian dari hal terpenting dari hidupku, yang tanpa kalian pasti warnanya jadi abu-abu doang. Entah itu kenangan yang indah, lucu, sedih, kaget, nyeremin atau bikin nangis, seenggaknya aku jadi makin berpengalaman dalam hal selektif ini.

Daaan, makasih buat sahabat-sahabat aku. Yang aku anggap sahabat (entah mereka nganggep aku sahabat apa nggak). Kalian yang satu pemikiran, bisa diajak cerita, mau dengerin curhatan tentang masalah apapun, jadi moodbooster meskipun kadang nyebelin, bisa diajak ketawa bareng, mau menghargai dan menerima, duh kebaikan kalian emang banyak banget. Semoga di lain tempat aku bisa menemukan orang-orang yang kayak kalian, yang spesiesnya entah ada berapa di dunia.

Meskipun nggak setiap hari chatting atau ketemu dan kumpul bareng, yang namanya sahabat akan kembali. Kata Lizzie sih gitu.

Teman, sebentar lagi bulan Mei


1 comment:

  1. Website paling ternama dan paling terpercaya di Asia
    Sistem pelayanan 24 Jam Non-Stop bersama dengan CS Berpengalaman respon tercepat
    Memiliki 9 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker / domino
    Link Alternatif :
    www.arenakartu.cc
    100% Memuaskan ^-^

    ReplyDelete

Just write your thoughts.