Thursday, December 31, 2020

POTRET FENOMENA SOSIAL DAN BUDAYA MASYARAKAT KOMUNAL DALAM FILM PENDEK ‘TILIK’

 

kompasiana.com

Judul: Tilik (2018) Durasi : 32 menit Produser: Elena Rosmeisara Sutradara: Wahyu Agung Prasetyo Penghargaan: Winner Piala Maya 2018 - Film Pendek Terpilih, Official Selection Jogja-Netpac Asian Film Festival 2018, Official Selection World Cinema Amsterdam 2019

Selama masa pandemi, tampaknya masyarakat yang terkungkung di dalam rumah lebih haus akan hiburan. Adanya pembatasan nyatanya memang membatasi seluruh sektor kehidupan. Kegiatan yang semula dilakukan secara ‘normal’ sebagai bagian dari agenda sehari-hari seolah berubah menjadi asing. Menonton film di bioskop, misalnya, menjadi sumber hiburan sekaligus sarana komunikasi.  Film yang berupa gambar bergerak dianggap efektif untuk menyampaikan pesan tertentu kepada masyarakat.

Produk visual tersebut mampu merepresentasikan suatu tokoh melalui ceritanya. Tidak heran apabila banyak film beredar yang merupakan bentuk alih wahana dari suatu karya sastra, seperti novel, puisi, atau cerita pendek. Cerminan kehidupan yang tersaji dalam film menjadi daya tarik tersendiri. Realitas kehidupan digambarkan sedemikian rupa hingga pada akhirnya akan menghadirkan perasaan tertentu bagi tiap penonton. Ketika suatu film dianggap bagus, boleh jadi di mata penonton lain film itu buruk. Penilaian karya seni dalam perspektif orang awam memang sangat subjektif. Adanya kritikus film dan ajang festival pemberi penghargaan lambat laun menjembatani pro-kontra masyarakat.

Pada era new normal ini, film Tilik menjadi salah satu film pendek yang sukses menyita perhatian khalayak umum. Mulanya, film yang lolos pendanaan Dinas Kebudayaan Yogyakarta itu ditayangkan di stasiun TVRI pada tahun 2018, hingga dua tahun kemudian dapat diakses secara gratis melalui Youtube. Selang dua minggu sejak diunggah di akun Ravacana Films, film Tilik telah ditonton sebanyak dua puluh juta penonton. Tentu angka puluhan juta itu sangat fantastis. Film ini pun menuai respons positif dari beberapa sutradara kondang dan artis dari dunia perfilman, seperti Joko Anwar dan Ernest Prakasa di Twitter.

mediaindonesia.com
Penggerak roda utama film Tilik ini adalah tokoh Bu Tejo. Ia adalah sosok ibu-ibu khas pedesaan yang dikenal nyinyir karena gemar menyebar hoax yang bersangkutan dengan kehidupan orang lain, yaitu tetangganya. Ada juga tokoh Yu Ning sebagai lawan main Bu Tejo dengan sifat yang cukup berkebalikan. Pemain ektras yang ikut meramaikan adu argumen seru antara Bu Tejo-Yu Ning di atas truk pun menjadi aspek pendukung yang posisinya penting. Mereka adalah warga desa asli yang telah hidup di tengah-tengah fenomena ‘tilik’ (menjenguk). Akting yang sangat natural membuat film ini sempurna secara teknis. Sebab apabila soal casting sudah tidak diragukan, sinematografi dan propertinya pun patut diacungi jempol. Kualitas film pendek yang tidak kalah profesional dari film-film besar di bioskop memang dieksekusi dengan sangat baik.

Premis yang ditawarkan film Tilik sesungguhnya sangat sederhana. Film ini menceritakan perjalanan sekumpulan ibu-ibu dari pedesaan yang hendak ‘menjenguk’ ibu lurah yang sedang sakit di rumah sakit. Proses pengambilan gambar yang didominasi di atas truk juga membuat film ini layak disebut sebagai road film. Di sepanjang perjalanan, Bu Tejo memulai ‘diskusi’ alias gosip tentang aib seorang Dian, sang bunga desa di tempat tinggal mereka. Di sinilah, Yu Ning sebagai lawan main yang berstatus kerabat dari Dian mencoba membela. Baginya, sebuah berita yang belum terbukti kebenarannya Sepanjang perjalanan, Bu Tejo mulai bergosip tentang seorang bunga desa yang bernama Dian. Ibu-ibu yang lain merasa terprovokasi oleh Bu Tejo, namun Yu Ning yang masih kerabat dari Dian, mencoba untuk membela karena baginya tak cukup hanya menuduh orang melalui internet atau media sosial.

Uniknya, budaya ‘tilik’ dalam masyarakat komunal digambarkan dengan sangat baik dalam film ini. Sesuai dengan realitas yang ditemukan di daerah yang bukan perkotaan, segerombol warga yang biasanya didominasi oleh rombongan ibu-ibu akan beramai-ramai menyewa kendaraan untuk sebuah hajat. Entah itu untuk mengunjungi pernikahan tetangga, ziarah atau takziah, dan tentu saja tradisi ‘tilik’. Mereka pun akan membawa buah tangan sebagai bentuk penghargaan atau oleh-oleh. Sikap ini menjadi representasi kepedulian masyarakat pedesaan yang masih dipupuk dan dikembangkan. Walaupun cuaca panas dan jarak jauh, hal itu bukan perkara besar karena titik fokusnya adalah membantu mereka yang terkena musibah.

theconversation.com
Selain itu, aspek gosip yang juga dihadirkan dalam film ini sejatinya adalah unsur penting untuk kunci bersosialiasi di masyarakat. Kali ini mengesampingkan apakah subjeknya warga elite di perkotaan atau warga biasa di desa. Pergunjingan tentang orang lain dan kehidupannya, aib yang tersebar diam-diam dan kadang karena keceplosan alias tidak sengaja, sampai kabar burung yang tidak seratus persen benar, tidak dipungkiri justru lebih ampuh dalam merekatkan suatu kelompok. Bagaimanapun juga, manusia adalah makhluk sosial.

Sesungguhnya, hal yang harus disorot adalah perihal berita hoax dalam film Tilik karena itulah titik beratnya. Maraknya berita yang tidak valid dengan pergerakan yang amat masif di internet menjadi topik utama. Sikap Bu Tejo yang pandai menggiring opini berbekal informasi yang belum jelas dari internet dan respons ibu-ibu lain adalah gambaran subtil manusia-manusia di dunia nyata. Karakter manusia kadang bisa mereferesikan Bu Tejo, Yu Ning, atau yang lain. Maka tidak mengeherankan apabila banyak kutipan di media sosial yang menyebutkan bahwa, “Bu Tejo adalah kita semua.”

Lantas, adakah kekurangan film Tilik yang terlanjur jadi primadona dan mengguncang bahkan seluruh Indonesia? Diantara arus meme sampai kajian analisis akademik yang mendalam tentang film ini, merupakan hal wajar apabila terdapat perbedaan pendapat. Opini tentang ending yang kurang memuaskan karena dianggap ‘mengkhianati’ premis awal film, penggambaran stereotip wanita yang hanya pandai bergosip—bahkan disebut seperti ‘sapi’ karena naik di atas bak truk, potret aparatur negara yang kurang tegas (menjadi pro-kontra, sebagian menganggap ini sebagai kritik sosial, sebagian tidak terima), dan banyak kekosongan lain yang barangkali butuh ditambal.

seva.id
Terlepas dari stereotip ‘jelek’ mengenai ibu-ibu karena fokusnya pada gosip, film ini patut diapresiasi karena menggunakan wanita sebagai pemeran utama. Judul alternatif untuk film ‘Tilik’ yang diputar di luar negeri pun bertajuk ‘Ladies on Top’. Meskipun diproduksi tahun 2017, film ini seolah mendahului, namun juga menguatkan nilai-nilai budaya feminisme dan patriarki yang baru bergaung selama satu-dua tahun ke belakang.

Secara tidak langsung, film Tilik memang berhasil menjadi refleksi meskipun masih menuai kontroversi. Penilaian positif atau negatif terhadap tiap unsurnya bergantung kacamata mana yang hendak dipakai untuk melihat. Pada akhirnya, penilaian akan karya seni akan kembali kepada penikmatnya. Setidaknya, kehadiran film ‘Tilik’ telah menjadi hiburan segar di tengah carut-marut pandemi, melebarkan gerbang bagi pertumbuhan film pendek di Indonesia, juga memberi harapan bagi para sineas serta seniman lokal bahwa karya yang tulus akan sampai di hati para penikmatnya. 

seva.id

No comments:

Post a Comment

Just write your thoughts.